Minggu, 06 April 2014

tugas softskill




PENGARUH FASILITAS DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN











PROGRAM SARJANA MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikan proposal Penulisan Ilmiah  ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya. Proposal ini di buat untuk mengajukan Penulisan Ilmiah.
Proposal ini berisikan tentang pengaruh fasilitas dan motivasi kerja terhadap produktivitas kerja karyawan. Dalam penyusunan proposal Penulisan Ilmiah ini tidak lepas dari dari bantuan banyak pihak, maka pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada sumber – sumber yang saya dapat dari internet yang dapat saya jadikan referensi dalam proposal Penulisan Ilmiah ini.

Saya  menyadari bahwa proposal Penulisan Ilmiah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan proposal Penulisan Ilmiah ini. Akhir kata, Saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu  dalam penyusunan proposal Penulisan Ilmiah  ini dari awal sampai akhir.















BAB 1

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam suatu pencapaian tujuan perusahaan, diperlukan alat atau sarana pendukung yang digunakan dalam aktivitas sehari – hari di perusahaan tersebut, fasilitas yang digunakan bermacam – macam bentuk, jenis maupun manfaatnya, disesuaikan dengan dengan kebutuhan dan kemampuan perusahaan, kata fasilitas sendiri berasal dari bahasa belanda “faciliteit” yang artinya prasarana atau wahana untuk melakukan atau mempermudah sesuatu. Fasilitas juga biasanya dianggap suatu alat.
Secara psikologis menunjukkan bahwa kegairahan semangat seorang karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya sangat dipenuhi oleh motivasi kerja yang mendorongnya. Tegasnya, setiap karyawan memerlukan motivasi yang kuat agar bersedia melaksanakan pekerjaannya secara bersemangat, bergairah, dan berdedikasi (Nawawi, 1997:356). Persoalannya adalah bagaimanakah pengaruh kepuasan dan motivasi terhadap produktivitas kerja seseorang.
Pada dasarnya peningkatan kualitas sumber daya manusia sangat diperlukan guna mewujudkan hasil yang diharapkan oleh suatu instansi / perusahaan, yang dapat mendukung untuk lebih berpotensi dalam keberhasilan pencapaian tujuan perusahaan.
Berdasarkan latar belakang tersebut yang telah diuraikan diatas, maka penulis mengambil judul “Pengaruh Fasilitas dan Motivasi Kerja terhadap Produktivitas Kerja Karyawan”.









1.2  BATASAN MASALAH

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Primer, yang di peroleh dengan cara menyebarkan quisioner secara langsung.


1.3 PERUMUSAN MASALAH
Dalam penelitian ini penulis mencoba merumuskan persoalan dalam bentuk pertanyaan:
1.      Bagaimanakah pengaruh fasilitas terhadap produktivitas kerja karyawan?
2.      Bagaimanakah pengaruh motivasi kerja terhadap produktivitas kerja karyawan ?
3.      Bagaimanakah pengaruh fasilitas dan motivasi kerja secara bersama-sama terhadap produktivitas kerja karyawan?

1.4 TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk:
1.      Menganalisis pengaruh fasilitas terhadap produktivitas kerja karyawan.
2.      Menganalisis pengaruh motivasi kerja terhadap produktivitas kerja karyawan.
3.      Menganalisis pengaruh fasilitas dan motivasi kerja secara bersama-sama terhadap produktivitas kerja karyawan.

1.5 MANFAAT PENELITIAN
            Penelitian yang penulis lakukan ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi penulis
      sendiri, maupun bagi para pembaca atau pihak-pihak lain yang berkepentingan.
1.      Manfaat untuk Lembaga atau Instansi yang bersangkutan
Mengetahui cara penilaian tentang pengaruh fasilitas yang dilakukan dan pengaruhnya terhadap motivasi kerja yang berhubungan tentang produktivitas kerja karyawan.
2.      Manfaat untuk ilmu
Mengetahui cara pengaruh fasilitas dan motivasi kerja terhadap produktivitas kerja karyawan dalam mencapai suatu tujuan.


3.       Manfaat bagi penulis
Mengetahui pengaruh fasilitas dan motivasi kerja yang dilakukan yang berhubungan dengan produktivitas kerja karyawan.





  1.6 . KERANGKA PENELITIAN
               

Fasilitas  
    (X1)
Motivasi kerja
(X2)
Produktivitas Kerja Karyawan
(Y)

(Y)
(X)
 













          Berdasarkan kerangka piker penelitian yang telah diuraikan maka dirumuskan penelitian
          hipotesis adalah sebagai berikut:
-           Pengaruh fasilitas (X1) terhadap produktivitas kerja karyawan (Y)
-           Pengaruh motivasi kerja (X2) terhadap produktivitas kerja karyawan (Y)

1.7. SISTEMATIKA PENELITIAN

1.      BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah, batasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka penelitian dan sistematika penulisan. Dimana pada bab ini mengungkapkan sejarah atau latar belakang dan segala seluk-beluk persoalan yang berkaitan dengan masalah, baik teoritis maupun gejala empiris yang menjelaskan mengapa masalah itu perlu diteliti.
2.      BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menjelaskan secara singkat mengenai landasan-landasan teori mengenai fasilitas,motivasi kerja dan produktivitas kerja karyawan. Serta cara – cara mengembangkan fasilitas dan motivasi kerja yang tepat dapat menumbuhkan produktivitas kerja pada karyawannya. Tinjauan Pustaka menguraikan teori, temuan dan hasil - hasil penelitian yang pernah  dilakukan pada permasalahan yang sama atau relevan. Kajian pustaka penting untuk mengetahui bagaimana hubungan antara penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian  yang sudah ada dan dapat mengetahui perbedaan untuk menghindari duplikasi.

3.      BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisi tentang metodologi yang digunakan penulis dalam penelitian ini. Menguraikan metode yang digunakan dalam penelitian secara sistematis dalam rangka menjawab tujuan penelitian. Dalam metode penelitian mencakup : subyek penelitian, waktu dan tempat penelitian, pendekatan dan metode penelitian yang digunakan, teknik pengumpulan data, teknik analisa data, dan jenis - jenis instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data.

4.      BAB IV : HASIL PEMBAHASAN
Bab ini berisi tentang hasil dan pembahasan dari penelitian yang dilakukan oleh penulis. Dalam hal ini menguraikan tentang fasilitas,motivasi kerja dan produktivitas kerja karyawan. Serta cara – cara mengembangkan fasilitas dan motivasi kerja yang tepat dapat menumbuhkan produktivitas kerja pada karyawan.

5.      BAB V : PENUTUP
Bab ini berisi tentang uraian mengenai kesimpulan dari masalah yang diperoleh selama
penulisan ilmiah ini dan saran-saran untuk penyempurnaan dan pengembangan penulisan ilmiah yang dilakukan oleh penulis.



DAFTAR PUSTAKA
1.      PENGARUH FASILITAS DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
           TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN STUDI KASUS PTPN II
           KEBUN SAMPALI MEDAN (Cut Ermiati / 2010)
2.      PENGARUH KEPUASAN DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN RIYADI PALACE HOTEL DI SURAKARTA (Edhi Prasetyo dan M. Wahyuddin / 2010)

Jumat, 28 Maret 2014

tulisan 1

A. Pengertian Penalaran Deduktif      Penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.

B. Penalaran Deduktif

     Penalaran deduktif menggunakan bentuk bernalar deduksi. Deduksi yang berasal dari kata de dan ducere, yang berarti proses penyimpulan pengetahuan khusus dari pengetahuan yang lebih umum atau universal. Perihal khusus tersebut secara implisit terkandung dalam yang lebih umum. Maka, deduksi merupakan proses berpikir dari pengetahuan universal ke singular atau individual.
Penalaran deduktif adalah cara berpikir dengan berdasarkan suatu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Pernyataan tersebut merupakan premis, sedangkan kesimpulan merupakan implikasi pernyataan dasar tersebut. Artinya, apa yang dikemukakan dalam kesimpulan sudah tersirat dalam premisnya. Jadi, proses deduksi sebenarnya tidak menghasilkan suatu konsep baru, melainkan pernyataan atau kesimpulan yang muncul sebagai konsistensi premis-premisnya.

Contoh klasik dari penalaran deduktif:
  • Semua manusia pasti mati (premis mayor)
  • Sokrates adalah manusia. (premis minor)
  • Sokrates pasti mati. (kesimpulan)
Penalaran deduktif tergantung pada premisnya. Artinya, premis yang salah mungkin akan membawa kita kepada hasil yang salah dan premis yang tidak tepat juga akan menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat.

Sumber: http://kuroinoshiroyuki.blogspot.com/2010/03/penalaran-deduktif-dan-induktif.html

Jumat, 22 November 2013

hubungan prinsip bisnis dengan kepuasan konsumen


bagaimana hubungan prinsip bisnis dengan kepuasan konsumen



Kualitas Hubungan Bisnis dan Kepuasan Konsumen
Kepuasan konsumnen didefinisikan sebagai evaluasi keseluruhan dari konsumen terhadap pengalamannya dengan suatu perusahaan. Pelanggan juga membuat penilaian terhadap kepuasannya dengan pihak/seseorang yang berinteraksi dengannya (Macintosh, 2005). Lebih lanjut Macintosh (2005) juga menjelaskan bahwa kepuasan dengan pihak/seseorang yang saling percaya adalah komponen kunci dari kualitas hubungan serta kualitas hubungan terkait secara positif terhadap kepuasan konsumen.
Chakrabarty et al.,(2007), dalam penelitiannya telah mengembangkan model yang mengkaitkan antara kualitas hubungan bisnis dan kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan dalam industri teknologi informasi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kualitas hubungan bisnis dan kualitas pelayanan berpengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan Dengan demikian, hipotesis pertama dalam penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
H1: Kualitas hubungan bisnis berpengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan
Kualitas Pelayanan dan Kepuasan Konsumen
Wyckof (dalam Tjiptono, 1996:57) mendefinisikan kualitas pelayanan/jasa (service quality) sebagai tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulantersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. Ada dua faktor utama yang mempengaruhi kualitas pelayanan/jasa, yaitu pelayanan/jasa yang diharapkan dan pelayanan/jasa yang diterima. Apabila
pelayanan/jasa yang dirasakan sesuai dengan yang diharapkan, maka kualitas pelayanan/jasa dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika pelayanan/jasa yang dirasakan melebihi apa yang diharapkan maka kualitas jasa dipersepsikan sebagai kualitas yang ideal dan apabila jasa yang dirasakan lebih rendah dari yang diharapkan maka kualitas jasa dipersepsikan buruk.
Zeithaml (1988) mendefinisikan kualitas pelayanan sebagai penilaian pelanggan atas keunggulan atau keistimewaan suatu produk jasa secara menyeluruh. Menurut Mowen (1995), kualitas kinerja layanan merupakan suatu proses evaluasi menyeluruh pelanggan mengenai kesempurnaan kinerja pelayanan. Kualitas kinerja pelayanan terutama untuk sektor jasa selalu diidentikkan dengan mutu usaha itu sendiri. Artinya, semakin baik dan memuaskan tingkat pelayanannya, semakin bermutu usaha tersebut. Begitu juga sebaliknya. Sehingga usaha untuk meningkatkan pelayanan selalu dilakukan agar dapat memaksimalkan kualitas pelayanan/jasa. Pengalaman menggunakan pengetahuan tentang tingkatan suatu produk atau pelayanan merupakan faktor penentu yang penting bagi pelanggan dalam menilai kinerja produk atau
pelayanan. Zeithaml, Parasuraman, dan Berry (1988) mendefinisikan kualitas pelayanan sebagai bentuk sikap yang berkaitan tetapi tidak sama dengan kepuasan, sebagai hasil dari perbandingan
antara harapan dan kinerja. Anderson, Fornell, dan Lehmann (1994) berpendapat bahwa kualitas pelayanan berkaitan dan menentukan kepuasan pelanggan. Kotler (1997) menyatakan bahwa kualitas pelayanan harus dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi pelanggan. Persepsi pelanggan terhadap kualitas pelayanan merupakan penilaian menyeluruh atas keunggulan suatu pelayanan. Storey dan Easingwood (1988) berpendapat bahwa manajemen harus memahami keseluruhan pelayanan yang ditawarkan dari sudut pandang pelanggan. Menurut Shelton (1997), perusahaan harus mewujudkan kualitas yang yang sesuaidengan syarat-syarat yang dituntut pelanggan. Dengan kata lain, kualitas merupakan kiat secara konsisten dan efisien untuk memberi pelanggan apa yang diinginkan dan diharapkannya


http://ardiansuwarno.wordpress.com/2013/11/11/bagaimana-hubungan-prinsip-bisnis-dengan-kepuasan-konsumen/

Minggu, 10 November 2013

tugas softskill

nama: gilang ragil febrianto
npm:13211062
kls:3ea25





 Bagaimana konsumen mencapai kepuasan?
Kepuasan konsumen adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja (atau hasil) suatu produk dan harapan-harapannya
Pada dasarnya manusia sebagai konsumen membeli barang dan jasa adalah untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan hidup. Hal ini berarti konsumen tidak hanya membeli produk atau barangnya saja, akan tetapi yang dibeli adalah manfaat atau kegunaan dari produk tersebut. Keinginan dan kebutuhan manusia itu sifatnya tidak terbatas, tetapi sumber daya yang dimilki terbatas. Oleh karena itu demi mendapatkan suatu barang untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan tersebut maka seseorang akan rela menukarkan atau mengorbankan benda atau barang yang dimiliki, seperti uang atau benda-benda lainnya.
Tingkat kepuasan maksimum konsumen dapat dicapai pada waktu konsumen dapat memenuhi kebutuhan yang diinginkan. Bagaimana konsumen dapat memenuhi kebutuhan konsumen? Ada beberapa faktor yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen antara lain: pendapatan konsumen, harga barang dan selera konsumen.



 http://chandrasuherlim.blogspot.com/2013_10_01_archive.html
 

Minggu, 06 Oktober 2013

tugas softskill perilaku konsumen




Tahap Sebelum Pembelian
Konsumen akan menggali informasi tentang produk serta mendefinisikan tingkat kebutuhannya terhadap produk. Setelah mengidentifikasi kebutuhan dan kemungkinan mencari alternative pilihan terhadap produk maka langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi terhadap beberpa alternative produk yang ditawarkan oleh produsen

Evaluasi Alternatif
Dari berbagai informasi yang diperoleh, selanjutnya di proses untuk mendapatkan keputusan atau
pertimbangan nilai akan suatu produk, dan akan menghasilkan beberapa atribut yang akan muncul,
setelah itu baru di beri bobot dari berbagai alternatif.
Konsumen memproses informasi dari beberapa informasi dan membuat pertimbangan untuk
memuaskan kebutuhan, konsumen mencari manfaat produk dan memandang produk sebagai suatu
rangkaian atribut, atribut yang menonjol dianggap penting. Pemasar perlu menjelaskan manfaat produk
dan menentukan atribut yang menonjol untuk mempengaruhi Evaluasi Alternatif sebelum Keputusan.
  
Evaluasi Alternatif sebagai Proses 
Evaluasi Alternatif sebagai Proses adalah suatu pemilihan tindakan dari dua atau lebih pilihan alternative
dalam proses pengambilan keputusan selanjutnya. Bila seseorang dihadapkan pada pembelian produk,
yaitu antara membeli produk yang satu dan yang lain dengan kesamaan jenis, maka dia ada dalam posisi
harus membuat Evaluasi Alternatif sebelum pembelian. Dalam proses evaluasi alternatif, konsumen harus
melakukan pemecahan masalah dalam kebutuhan yang dirasakan dan keinginannya untuk memenuhi
kebutuhan dengan konsumsi produk atau jasa yang sesuai.

Tiga tingkatan dalam pemecahan ini;

- Pemecahan masalah yang mensyaratkan respons yang rutin.
- Pemecahan masalah dengan proses yang tidak berbelit-belit (terbatas).
- Pemecahan masalah yang dilakukan dengan upaya yang lebih berhati-hati dan penuh pertimbangan
  (pemecahan masalah yang intensif).

Kriteria Evaluasi
Kriteria evaluasi berisi dimensi atau atribut tertentu yang digunakan dalam menilai alternatif-alternatif
pilihan. Kriteria alternatif dapat muncul dalam berbagai bentuk, misalnya dalam membeli mobil seorang
konsumen mungkin mempertimbangkan criteria, keselamatan, kenyamana, harga, merek, negara asal
(country of origin) dan juga spek hedonik seperti gengsi, kebahagiaan, kesenangan dan sebagainya.

Beberapa kriteria eveluasi yang umum adalah:
1. Harga
Harga menentukan pemilihan alternatif. Konsumen cenderung akan memiliha harga yang murahuntuk suatu produk yang ia tahu spesifikasinya. Namun jika konsumen tidak bisa mengevaluasi kualitas produk maka harga merupakan indicator kualitas. Oleh karena itu strategi harga hendaknya disesuaikan dengan karakteristik produk.

2. Nama Merek
Merek terbukti menjadi determinan penting dalam pembelian obat. Nampaknya merek merupakan penganti dari mutu dan spesifikasi produk. Ketika konsumen sulit menilai criteria kualitas produk, kepercayaan pada merek lama yang sudah memiliki reputasi baik dapat mengurangi resiko kesalahan dalam pembelian.

3. Negara asal
Negara dimana suatu produk dihasilkan menjadi pertimbangan penting dikalangan konsumen. negara asal sering mencitrakan kualitas produk. Konsumen mungkin sudah tidak meraguakan lagi kualitas produk elektronik dari Jepan. Sementara, untuk jam tangan nampaknya jam tangan buatan Swiss meruapak produk yang handal tak teragukan.

4. Saliensi ( Atribut yang mencolok)
Konsep saliensi mencerminkan ide bahwa kriteria evaluasi kerap berbeda pengaruhnya untuk konsumen yang berbeda dan juga produk yang berbeda. Pada suatu produk mungkin seorang konsumen mempertimbangkan bahwa harga adalah hal yang penting, tetapi tidak untuk produk yang lain. Atribut yang mencolok (salient) yang benar-benar mempengaruhi proses evaluasi disebut sebagai atribut determinan.


sumber: 
http://argen26.blogspot.com/2012/10/evaluasi-alternatif-sebelum-pembelian.html